Jakarta
Kala pertama
mengenal Jakarta, ia begitu indah dilihat
bahkan seperti menjanjikan kebahagaian bagi setiap orang yang berada di dalamnya. Ternyata benar, setelah mengenal Jakarta lebih jauh, ia begitu menyenangkan. Dapat mengisi hari-hari dengan berbagai cara yang tak pernah ku alami sebelumnya.
bahkan seperti menjanjikan kebahagaian bagi setiap orang yang berada di dalamnya. Ternyata benar, setelah mengenal Jakarta lebih jauh, ia begitu menyenangkan. Dapat mengisi hari-hari dengan berbagai cara yang tak pernah ku alami sebelumnya.
Jakarta……
Tak banyak
yang dapatku bagikan kepadanya, bahkan saat ia begitu banyak memberikan
kebahagiaan kepadaku. Jakarta yang mengenalkanku sedikit arti kehidupan.
Jakarta…
Ternyata
benar, dunia itu ‘berputar’. Kini, Jakarta berada pada titik terendah
kebahagaiaan yang pernah ia janjikan.. Jakarta tidak lagi menjadi tempat
teromantis yang kukenal dulu.
Jakarta telah berubah seratus delapan puluh derajat.
Jakarta tidak lagi menjadi tempat terindah seperti yang ia janjikan sebelumnya.
Tiap jengkal pada tubuh Jakarta, kini telah menjadi tempat yang sesak menghimpit dada.
Jakarta telah berubah seratus delapan puluh derajat.
Jakarta tidak lagi menjadi tempat terindah seperti yang ia janjikan sebelumnya.
Tiap jengkal pada tubuh Jakarta, kini telah menjadi tempat yang sesak menghimpit dada.
Jakarta…
Telah merubah
persepsiku padanya.
Mematikan rasa.
Jakarta, kini hanya menjadi tempat terpahit. Membunuh tiap bibit harapan yang pernah tertanam disana.
Mematikan rasa.
Jakarta, kini hanya menjadi tempat terpahit. Membunuh tiap bibit harapan yang pernah tertanam disana.
Jakarta…
Kini..
kita hanya sebaris kalimat igauan mimpi buruk dari tidur yang tidak terlalu pulas.
kita hanya sebaris kalimat igauan mimpi buruk dari tidur yang tidak terlalu pulas.
Jakarta…
Pembunuh
Paling Romantis Dalam Diam.
Jakarta…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar