Jakarta

Jakarta

Kala pertama mengenal Jakarta, ia begitu indah dilihat 
bahkan seperti menjanjikan kebahagaian bagi setiap orang yang berada di dalamnya. Ternyata benar, setelah mengenal Jakarta lebih jauh, ia begitu menyenangkan. Dapat mengisi hari-hari dengan berbagai cara yang tak pernah ku alami sebelumnya.

Jakarta……

Tak banyak yang dapatku bagikan kepadanya, bahkan saat ia begitu banyak memberikan kebahagiaan kepadaku. Jakarta yang mengenalkanku sedikit arti kehidupan.

Jakarta…

Ternyata benar, dunia itu ‘berputar’. Kini, Jakarta berada pada titik terendah kebahagaiaan yang pernah ia janjikan.. Jakarta tidak lagi menjadi tempat teromantis yang kukenal dulu. 
Jakarta telah berubah seratus delapan puluh derajat. 
Jakarta tidak lagi menjadi tempat terindah seperti yang ia janjikan sebelumnya. 
Tiap jengkal pada tubuh Jakarta, kini telah menjadi tempat yang sesak menghimpit dada.

Jakarta…

Telah merubah persepsiku padanya.
Mematikan rasa. 
Jakarta, kini hanya menjadi tempat terpahit. Membunuh tiap bibit harapan yang pernah tertanam disana.

Jakarta…
Kini..
kita hanya sebaris kalimat igauan mimpi buruk dari tidur yang tidak terlalu pulas.

Jakarta…
Pembunuh Paling Romantis Dalam Diam.

Jakarta…

Engkau telah pudar


Mei, 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar